Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural : Pancasila Pemersatu Bangsa

Garuda Pancasila Pemersatu Cita-Cita Bangsa Indonesia

Oleh . Sutrisno

images

Pemahaman Bhineka Tunggal Ika sepertinya mulai luntur dan ditinggalkan oleh bangsa ini, bila keadaannya terus menerus tergerus oleh keadaan negeri yang masih saja semerawut, selalu ribut mempertentangan masalah politik yang tak kunjung berujung juntrungannya. Padahal kata symbolik yang tertuang pada bentangan pita yang di apit dua kaki burung Sang Garuda lambang negara kita itu adalah merupakan sebuah pesan yang tersirat dari para pendahulu pendiri Negeri ini, memiliki makna yang mengisyaratkan akan pentingnya sebuah nilai-nilai persatuan bangsa yang harus tetap di nomor satukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sampai kapanpun. Di atas pondasi, berbeda-beda tetap satu jua, arti itulah yang harus senantiasa di pegang teguh oleh siapapun anak bangsa ini, selama hayat masih di kandung badan pantang menyerah untuk senantiasa memegang teguh erat semboyan Sang Garuda itu, supaya tetap peduli untuk tetap mempersatukan bangsa ini dari perpecahan.

Hadir dan bermunculannya berbagai komunitas baik di kancah dunia nyata maupun dunia maya, memiliki banyak kontribusi besar bagi keberlangsungan hubungan sosial berbagai komunitas antar pengguna Sosial media di seluruh penjuru dunia dan memiliki efek positif bagi kelangsungan hubungan sosial kemasyarakatan, baik dalam negeri maupun dalam percaturan pergaulan dunia. Betapa tidak, jika suatu komunitas dikelola dengan benar dan mengedepankan dasar semboyan Bhineka Tunggal Ika. Serta memegang teguh idealisme akan pentingnya mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila, memiliki peran dan manfaat besar bagi bangsa Indonesia sepanjang masa. Tetapi bila kita mengabaikannya justru akan melunturkan kehidupan kita sendiri dalam berbangsa dan bernegara tersebut. Apalagi arus informasi yang deras membanjiri dunia media masa baik cetak, elektronik maupun online yang terbuka luas dan mudah di akses dari mana dan kapan saja datangnya, baik yang muncul dari dalam negeri sendiri maupun arus informasi yang muncul dari luar negeri tanpa adanya sistem filterisasi pembatasan yang jelas, memudahkan bangsa ini terprovokasi dan terpecah belah.

Tidak ada yang salah memang, jika kita berasumsi bukankah ini jamannya globalisasi. Eranya reformasi, di mana arus informasi dan kebebasan berpendapat merupakan hak asasi setiap manusia untuk bersuara, beropini dan berpendapat? Haruskah kebebasan itu dibatasi, mestikah corong dan gendang telinga ini kembali di bungkam lagi, seperti di masa lalu dimana setiap aspek yang berkembang di masyarakat diawasi dan dibatasi. Bagai masa orde baru tempo dulu?  Jawabannya tentu tidak, dan semuanya pasti sepakat untuk mengatakan No Way untuk masalah pembungkaman fublik itu. Bukan itu solusi terbaik untuk bangsa ini dalam upaya memperoteksi diri dari jurang perbedaan yang menganga dan semakin terbuka lebar itu. Ingat suara rakyat yang bersatu akan menajdi kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, dapat meruntuhkan tinggi dan kokohnya gedung kekuasaan, sebab suara rakyat adalah suara Tuhan.

Dengan menanamkan semboyan NKRI adalah sebuah harga mati, mungkin inilah salah satu win-win solusion untuk mencegah perpecahan di dalam negeri, dengan meyakini serta menanamkan konsensus bersama seluruh anak negeri Bangsa Indonesia untuk tidak akan pernah lagi ada dan mau mengakui baik secara de facto maupun de jure sebuah pendirian Negara di dalam Negara, seperti kesalahan di masa lalu ketika kita memberikan kesempatan pada suatu daerah di timur pulau jawa, dengan membiarkannya merdeka. Hal itu semata-mata imbas dari kesalahan masa lalu kita yang menggelinding bak bola salju, yang harus ditebus dengan nilai mahal bangsa ini, sebagai kelalaian sebuah kebijakan program pemerintah yang tidak pro rakyat dalam pemetaan dalam pemerataan pembangunan.

Dulu negara di kelola secara Diktatoris yang bersifat sentralisis dan mengenyampingkan suara dan keinginan segenap bangsa Indonesia, untuk turut berperan serta dalam membangun negerinya sendiri. Sebagaimana suara rakyat yang terkungkung dalam pembatasan-pembatasan bersuara dan berpendapat.

Bagaimanapun turut merasakan hasil pembangunan adalah hak semua anak bangsa yang harus diperhatikan baik kesejahteraan maupun kemakmurannya dari sabang sampai merauke, sebagaimana amanat sila kelima dalam Pancasila. Yakni, demi tercapainya sebuah, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali dari sabang sampai merauke, dari Mianas sampai pulau Rote harus terjamin akan sarana pendidikan, ekonomi dan pembangunan berbagai fasilitas umumnya secara merata, dengan mengedepankan suksesnya pembangunan semesta sampai ke pelosok negeri, di mana si buyung dan si upik hidup bermasyarakat dan menghabiskan masa hidupnya di sana. Geliat kebijakan otonomi daerah yang sudah berjalan semenjak era reformasi ini digulirkan cukup memberi angin segar untuk setiap warga negara masyarakat Bangsa indonesia untuk mengembangkan dan membangun daerahnya masing-masing. Jika  hal itu tidak juga berhasil dicapai sudah barang tentu kebijakan otonomi daerah yang telah disepakati bersamapun memiliki banyak celah untuk disalah-artikan kembali sebagai sebuah kemerdekaan new moveing (bentuk baru) tak terbatas bagi suatu daerah hingga para pejabat daerahnya dengan alasan mengatasnamakan sebuah kebijakan otonomi daerah banyak mengambil keuntungan untuk memperkaya diri pribadi dan membangun komunitas raja-raja kecil yang tak terjamah hukum. Bukankah itu sama artinya membiarkan bangsa ini kembali terkotak-kotak. Solusinya adalah kontrol sosial dan pengawasan langsung dari rakyat Indonesia, baik kritik dan pendapat maupun saran yang sifatnya membangun lewat media masa baik elektronik, cetak maupun Sosial Media online merupakan sumbangsih berharga untuk kelangsungan NKRI di masa yang akan datang. Tentu hal itupun harus tetap dalam koridor komunikasi kritis, membangun akses komunikasi informasi yang sehat bukan komunikasi yang memprovokasi dan menghujat. Disinilah fungsi Media kemasyarakatan dapat dimanfaatkan sebagai nilai azas manfaat bagi bangsa dan negara.

Menilik dari segi geografis wilayah Indonesia yang luas dan memiliki ribuan pulau di atas hamparan samudera nun indah, Persada Nusantara Indonesia yang kaya akan keanekaragaman sumber daya alam baik yang terkandung di perut bumi, di bentangan samudera luas serta pegunungan yang menjulang cantik. Keaneka-ragaman Bahasa dan budaya merupakan nilai lebih yang patut disyukuri pula, sebagai khazanah kekayaan Budaya warisan nenek moyang bangsa ini, namun jangan sampai juga kita lupa dan melalaikan perbedaan itu hanya sebagai hal biasa. Justru dengan keanekaragaman itu bila tidak tetap di jaga dengan lekatnya persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana amanat Pancasila sila ke tiga yakni, Persatuan Indonesia, bangsa yang terdiri dari berbagai suku-suku, keanekaragaman khasanah bahasa daerah dan agama ini sangat rentan dan mudah terpercik api provokasi, apalagi jika hal itu menjurus mengenai kecemburuan sosial yang ujungnya bangsa dan Negara kita kembali terancam perpecahan.

Saling menghargai dan menghormati adalah modal dasar kita dalam turut memperkuat tali silaturahim persatuan atas rasa senasib dan sepenanggungan. Silih asah, silih asih dan silih asuh perlu kembali digelorakan agar bangsa ini tetap tentrem ayem, aman sejahtera. Meminjam sebuah wasiat Bapak pluralisme Indonesia Almarhum KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu kesempatan beliau menyampaikan bahwa, perbedaan itu adalah anugerah Tuhan yang patut disyukuri dengan mencari persamaannya bukan perbedaannya. Betapa indahnya bukan, jika masing-masing individu dapat memahami makna dan manfaat dari perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan yang patut di jaga dengan kebersamaan dan mengedepankan nilai-nilai persamaan.

Begitupun ketika kita bergaul dengan bangsa-bangsa lain di dunia hal itu mesti menjadi pegangan pergaulan dalam komunitas Global yang sarat akan multikultural itu. Bila tidak, manalah mungkin kita bisa menjadi bagian dari bangsa-bangsa lain, saat bersosialisasi dan turut berperan dalam percaturan pergaulan dunia.

banner lomba blog PusakaIDPerkembangan dunia Teknologi informasi yang sangat pesat membuka link baru dalam mempermudah komunikasi tidak hanya sebatas komunikasi, say hallo… tapi lebih dari itu lewat link media online inilah diharapkan nantinya akan melahirkan opini dan ide-ide baru yang fresh untuk turut berpartisipasi dalam khazanah memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi  nilai-nilai kebangsaan berazaskan Demokrasi Pancasila. Bak sebuah pepatah lama mengatakan, bagaikan Jamur yang tumbuh di musim penghujan. di mana buahnya dapat dipetik, dimanfaatkan dan dirasakan secukupnya secara langsung oleh semua komunitas sebagai media corong masyarakat yang peduli akan nasib bangsanya sendiri. tentu tanpa harus berlebihan dan melewati batas kepatutan penggunannya, dan jangan sampai pula kita sendiri  teracuni oleh jamur-jamur liar yang turut tumbuh di musim penghujan tersebut.

Pancasila dalam pandangan Sosiologi 

Globalisasi membuka mata dunia untuk menyibak jendela informasi seluas-luasnya agar dapat di akses secara luas dan bebas. Pergaulan Global, kulturisasi bahasa dan budaya kini terasa dekat tanpa jarak dan sekat. Era informasi yang di bangun diberbagai belahan dunia dengan kemajuan dunia IT telah menjadikan kita terasa dekat. Betapa tidak, dulu untuk sekedar berkomunikasi diberbagai belahan dunia kita harus mengorbankan banyak waktu dan jarak yang tak cukup dikerjakan dalam waktu singkat. Dan setiap gerak anak bangsa dibatasi secara pergaulan maupun akses informasinya.

Lain ladang lain pula ilalang – lain dulu lain pula sekarang. Mungkin itu sebuah pepatah lama yang masih hangat terasa di benak kehidupan kita di era kemajuan jaman saat ini. Meskipun kebebasan itu terbuka luas bak kran air yang terbuka selebar-lebarnya, tidak pula kita harus mengabaikan rasa tanggungjawab bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Minimal kita tahu dan paham bagaimana seharusnya menjadi warga negara yang baik dan benar. Baik menurut aturan yang berlaku di masyarakat, yang disepakati bersama dalam bentuk Undang-undang dan Benar menurut norma-norma sosial maupun norma natagama serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dunia maupun hukum agama. Mengapa harus demikian?

Sebab  Baik belum tentu benar dan benarpun belum tentu baik. Baik menurut logika belum tentu baik menurut realita, benar menurut norma hukum sosial belum tentu benar pula menurut hukum agama. Sehingga untuk mencapai manusia Indonesia seutuhnya dapat menjadikannya manusia yang tahu aturan dalam bersosialisasi secara baik dan benar. Jika tidak, cepat atau lambat pastilah bangsa dan negara kita ini yang akan menerima hukum alam yakni timbal balik dari sikap yang kurang baik tersebut, menjadikannya kian terpuruk dan bangkrut.

Contoh mudahnya, seperti tragedi hempasan badai krisis moneter yang pernah melanda negeri ini, merupakan timbal balik dari akumulasi kesalahan yang di anggap baik dan benar. membiarkan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme menjadikannya bagian dari kebudayaan baru bangsa kita yang tanpa kita sadari telah melemahkan perekonomian nasional. Banyaknya para koruptor yang menggerogoti Dana pembangunan negeri ini, mungkin menurutnya baik sebagai jalan pintas untuk memperkaya diri sendiri, sebuah nilai tambah mereka dalam meningkatkan taraf hidup keluarganya, sekaligus kroni-kroninya sebagai langkah potong kompas dalam pemenuhan pundi-pundi penghasilan dan modal perjuangannya, tapi mereka tidak menyadari, bahwa tindakannya itu akan berimbas sangat tidak baik bukan hanya bagi dirinya, keluarganya beserta kroni-kroninya saja, akan tetapi bagi lingkungan serta seluruh masyarakat, seluruh warga negara Indonesia pun turut merasakan efek dari tindak keculasannya itu.

Betapa banyak program mega proyek pembangunan negeri ini yang terbengkalai begitu saja. Dan tak jarang mereka beralasan dengan mengatasnamakan pembangunan demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, berjibaku mengatur siasat liciknya menyelewengkan ratusan juta Dollar uang pinjaman Luar negeri untuk memperkaya dirinya, keluarganya dan bahkan para kroni-kroninya itu. Pada ujungnya malah banyak menelantarkan dan menyengsarakan rakyat dengan meninggalkan hutang Luar negeri yang benar-benar luar biasa besarnya. Budget proyek pembangunan yang diproyeksikan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat banyak yang diselewengkan dan digelapkan. Proyek yang jadipun tampak asal-asalan dan terkesan asal jadi. Hari ini diresmikan bulan depan sudah mengalami kerusakan. akibatnya alokasi dana triliyunan Rupiah dengan menggunakan uang rakyat itu jadi sia-sia belaka. Budget yang seharusnya diproyeksikan untuk pos pembangunan yang lain harus tertunda karena anggarannya kembali digunakan untuk merenovasi proyek yang gagal itu. Sungguh memperihatinkan bukan?

net

Memanglah tidak mudah merubah menset kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. tidak mudah merubah kebiasaan korup dengan sesuatu yang transparan. Setidaknya, kebiasaan itu akan menjadikan suatu ekses yang kurang baik dalam percaturan sosial-politik dalam bermasyarakat bahkan hubungan pergaulan di belahan mata dunia manapun.

Penyadaran diri sepertinya tidaklah cukup hanya di gaungkan lewat seminar maupun simposium sambil ngopi bareng di suatu tempat warung pojok saja, kalau pada akhirnya, segala usaha untuk menuju Indonesia yang lebih baik, maju dan bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, bagi segenap warga negeri ini hanya tinggalah sebuah impian, dambaan kaum marginal dalam bahasan wacana yang tersusun rapi dalam lembaran-lembaran usang yang mulai lusuh termakan usia, lalu bertumpuk dan terabaiakan begitu saja. Korupsi merupakan penyakit sosial yang sudah mencapai klimaks ambang batas kewajaran yang akhir-akhir ini menjangkiti para pemegang kebijakan. Seyogyanya, tindakan tegas tanpa harus pandang bulu, entah itu bulu ayam ataupun bulu domba, bila terbukti bersalah semestinya di beri sangsi seberat mungkin sebagai sarana efek jera bagi perilaku kesewenang-wenangannya. Bila perlu, sediakan peti mati untuk mereka para koruptor Negeri ini yang senyata diri terbukti bersalah. Bukankah mereka itu sudah menghianati bangsa dan negaranya sendiri dan termasuk mengingkari cita-cita bangsa ini yang termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila sila ke 2 yang bercita-cita menjadikan manusia Indonesia seutuhnya sebagai nilai-nilai, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, dan beradab pula dalam menjalankan amanat dari segenap warga Negara Indonesia. Sebuah anggapan Indonesia adalah bangsa beradab yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran yang terkenal ramah, santun dan bermartabat dalam pergaulan dengan sesama anak bangsa maupun antar bangsa di dunia. Budaya ketimuran adalah salah-satu identitas Bangsa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari baik skala nasional maupun internasional. Bangsa kita dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat budayanya.

Secara geografis wilayah tanah air yang luas dan terpencar di berbagai daerah secara alami bangsa Indonesia memiliki berbagai kekayaan adat istiadat adi luhur yang tak di miliki bangsa lain. Namun ciri khas bangsa yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ketimuran tersebut seperti ‘budaya malu’ misalnya, jangan sampai dipahami salah kaprah sampai kepala botak sebelen hingga banyak disalah-artikan berlebihan; berubah menjadi sebuah budaya, ‘malu-maluin’ dalam pandangan mata dunia dan pergaulan antar bangsa-bangsa.

Pancasila Sebagai Bagian dari 3 Pilar Bangsa

Pengamalan Pancasila sebagai salah satu dari 3 pilar bangsa untuk dilaksanakan diberbagai aspek kehidupan dalam berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta, apabila benar-benar diamalkan secara baik dan benar tentu kemaslahatan dan kemajuan negeri ini akan tercapai sesuai tujuan dasar dibentuknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) oleh para Punding father Bangsa Indonesia yang diharapkannya maju, sejahtera, berdaulat dan memiliki integritas tinggi di mata dunia. Bukankah itu yang selama kurun waktu hampir satu abad Negeri ini merdeka senantiasa didengungkan oleh para pemegang kekuasaan di Negeri ini. Sudahkah cita-cita bangsa ini tercapai?

Jawabannya, Relatif dari sudut pandang mana kita menilai keberhasilan itu telah di capai. Jika kita menilik dari aspek sosial ekonomi kemasyarakatan tentu bangsa ini bisa di kata sudah maju, di nilai sebagai masa keemasan yang sedang dicapai. Betapa tidak, tanpa mengurangi rasa prihatin kita kepada realitas bangsa Indonesia yang masih banyak mengesampingkan pengamalan dasar-dasar kenegaraannya, sudah dianggap berhasil. Setidaknya bangsa ini sudah tidak lagi kekurangan sandang pangan dan papan. pembangunan bergeliat bergairah di berbagai aspek sendi-sendi kehidupan, sumber daya manusianya telah mampu membawa negerinya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan memberi konstribusi besar bagi kemajuan dan perdamaian pergaulan antar bangsa-bangsa.

Namun, alangkah indah dan bijaknya bila keberhasilan pembangunan negeri yang katanya sudah dicapai ini di topang pula dengan keberhasilan berbangsa dan bernegara di dalam mengamalkan Pancasila secara baik dan benar. Mengapa harus demikian? Karena keberhasilan bangsa ini dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan Negeri dan bangsanya harus juga diikuti keberhasilan dan kemajuan moral bangsa yang dewasa  ini di nilai kurang baik. Mengapa tidak, pelanggaran peraturan dan Undang-undang yang merupakan salahsatu rambu-rambu 3 pilar berbangsa banyak yang dilupakan dan terabaikan begitu saja, seakan sudah menjadikannya sebuah kelaziman dan keumuman baik itu oleh masyarakat maupun oleh oknum pembuat kebijakan dan oknum penyelenggara negara itu sendiri. seringkali terdengar bahkan terlihat secara kasat mata tanpa perlu memakai kacamata kuda tindak perilaku anak negeri ini sering menyakiti, merampas, memperkosa hak-hak orang lain demi kepentingan dirinya, keluarganya maupun komunitasnya sendiri. banyak perilaku pembuat kebijakan yang melanggar kebijakan yang mereka buat  sendiri serta sering pula tindakan yang kurang patut dilakukan oleh penyelenggara negara sebagai abdi negara notabene adalah abdi pelayan masyarakat yang harus melayani masyarakatnya dengan baik, bukan harus menuntut ingin dilayani oleh masyarakatnya. Budaya-budaya ekslutifitas sebagian anak bangsa telah banyak mengotori perilaku Bangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong sebagaimana cita-cita segenap bangsa Indonesia yang tertuang indah dalam butir-butir pancasila sebagai berikut;

1. KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. PERSATUAN INDONESIA

  • Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  • Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  • Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  • Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN

  • Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
  • Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  • Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  • Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  • Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  • Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  • Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

  • Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  • Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  • Menghormati hak orang lain.
  • Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain
  • Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  • Suka bekerja keras.
  • Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  • Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Semenjak negara ini terbentuk dan dinyatakan Merdeka dari sebuah penjajahan Imperalisme. Sejarah Negeri telah mencatat dalam sebuah catatan buram bangsa kita sepanjang jaman, betapa menderitanya bangsa kita waktu itu akibat  dari perilaku para penjajah Negeri ini. Ribuan bahkan jutaan nyawa para pahlawan Bangsa Indonesia dengan terpaksa dikorbankan dalam upaya menuntut sebuah kebebasan (Kemerdekaan) berbangsa dan bernegara. Sudah cukup panjang bangsa kita di nina-bobokan dan di perah demi kepentingan bangsa imperialisme. Haruskah di saat negeri ini menikmati angin kemerdekaan itu masih saja harus dipaksakan menikmati penjajahan dari bangsanya sendiri. Janganlah sampai kita mau dijadikan topeng penjajahan move baru bangsa lain dengan kembali mengorbankan bangsa sendiri, meskipun itu mengatasnamakan sebuah pembangunan. Jika pada akhirnya sebagian bangsa indonesia ini dirugikan dan merasa terzalimi. Apabila hal ini masih saja terjadi lalu apa bedanya dengan penjajahan yang dulu pernah ada.

Arus Globalisasi yang deras menghantam sebuah kemajuan jaman semestinya kita sikapi sebagai anugerah yang patut disyukuri. Betapa tidak, dengan arus informasi yang menggelobal itu setidaknya telah mempermudah kita untuk memperoleh berbagai informasi dari berbagai belahan dunia manapun. dengan cepat, mudah dan murah. Segala kemudahan yang kita rasakan saat ini sepatutnya dipergunakan secara arif dan bijaksana. Arus informasi apapun yang datang dari luar Negeri mestinya masing-masing diri kita mampu dan mau memfilterisasinya secara teliti. Sebab, apapun yang baik menurut bangsa lain belum tentu Indonesia. Pantas bagi bangsa lain belum tentu juga bagi bangsa indonesia. Tidak hanya sebatas informasi belaka, seyogyanya dapat menjadi salah-satu tindakan alternatif untuk dapat menempatkan bangsa kita sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tanpa harus mengenyampingkan kultur adat istiadat, dan budaya bangsa sendiri dalam penegasan bahwa bangsa Indonesia punya ciri, identitas sebagai bangsa yang bermoral. segala nilai Budaya, seni dan adat istiadat adi luhung itu semestinya dijadikan modal kebangsaan yang mesti dan harus terus menerus dikampanyekan, seperti Budaya berbusana yang sopan dan tutur kata yang santun, supaya image bangsa yang berprikemanusiaan dan beradab serta berbudaya nilai tinggi adalah milik bangsa kita, bangsa Indonesia. hal itu sejalan dengan tujuan pembukaan UUD 1945 dalam pembukaannya yakni, Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, segala bentuk penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan…

Pergaulan antar komunitas bangsa-bangsa dunia yang multikultural diharapkan tetap menjunjung tinggi rasa tenggang rasa, saling menghormati dan menghargai kepada sesamanya di manapun kita berada. Bagai pepatah lama mengatakan, di mana bumi di pijak disitu bumi di junjung. tentu dengan terus memegang teguh sebuah identitas kita sebagai Bangsa yang berbudaya ketimuran. itu adalah salah satu bentuk patriotisme kebangsaan yang senantiasa cinta akan Negeri dan tanah airnya. Boleh kita sedang berada di belahan dunia manapun tapi hati kita tetap ada di pangkuan ibu pertiwi. Bak Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Indonesia tetap tanah airku, sampai kapanpun kita sepakat, Cinta Indonesia.

Sebuah harapan dan cita-cita dari segenap bangsa indonesia yang senantiasa mendambakan kemajuan sebuah negeri yang tidak hanya di nilai dari satu sudut pandang pembangunan fisik belaka akan tetapi lebih dari itu diharapkan kemajuan manusia indonesia seutuhnya yang senantiasa menjunjung tinggi pengamalan nilai butir-butir Pancasila.

notes2

Dengan menjaga dan senantiasa mengamalkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seyogyanya cita-cita bersama untuk menjadikan bangsa Indonesia yang merdeka, sejahtera adil dan makmur sepantasnya menjadikan negeri ini lebih maju baik secara pembangunan fisik maupun pembangunan secara Psikologis bangsanya, yang harus merasa merdeka dan bertanggungjawab dalam turut berperan serta melanjutkan cita-cita kemerdekaan, menjadikan Indonesia pada sebuah negara baldatun thayibatun warafun ghafur, toto tentrem loh jinawi gemah ripah repeh rapih, yang dapat mengayomi dan mensejahterakan bangsanya secara menyeluruh adil dan makmur, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UUD 1945  dan pancasila sila Ke-5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Segera tercapai, semoga… @Sutris.Inoy

Iklan
Komentar
  1. […] 1. Nama: Sutrisno Judul Tulisan: Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural: Pancasila Pemersatu Bangsa […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s